Jumat, 20 April 2012
Candi angin
Candi ini merupakan candi tua yang terletak di wilayah Jawa tengah sebelah utara. candi ini di lihat dari strukturnya lebih tua dari eradaban yang ada di buku2 SNI"strukturnya sebagian dari batu yang berbentuk Bata". untuk candi angin lor sendiri kini wilayahnya tertutup oleh semak yang rindang.. dan susah untuk di lalui.
ternyata sang waktu
entah sadar atau tidak sadar, kita telah melupakan sesuatu yang paling
jauh dan sangat jauh, mungkin dalam fikiran kita yang paling jauh
berfikir negara eropa jauh dari sini, kemudian bulan, lebih jauh lagi
mars, lebih jauhlagi matahari, lebih jauh lagi batas terluar tata surnya
dan lebih jauh lagi batas galaksi bima sakti dan bahkan batas terluar
alam semesta, hm........ mungkin semua itu dapat di raih dengan
perjalanan yang panjang, tetapi mungkinkah kita pernah berfikir bahwa
sesuatu yang paling jauh ternyata di sekitar kita, yah........1 menit
yang baru saja kita lewatkan, mungkinkah kita akan mengulangnya dengan
baik dan sempurna, seandainya ada paling yang paling baik adalah
mendekati sempurna, karena walaupun kita mengambil gambar menulis atau
mencatat, semua itu tak bisa membuat sesempurna 1 menit lalu karena di
sana semua aspek2 yang mendukung 1 menit yang lalu ada. hm.........
itulah kehebatan sang waktu, walaupun kita berfikir kita menggunakan
mesin waktu hal itu tak akan sempurna, karena terdapat kehadiran kita
dari masa depan yang menambahkan kita ke dalam 1 menit yang lalu, begitu
hebatnya sang waktu yang sangat sempurna dan jauhnya dari kita .... he
he he
Selasa, 06 Maret 2012
Keruntuhan Mahasiswa
Pada awal masuk sebagai mahasiswa, mahasiswa di berikan Euforia-euforia tentang perjuangan, keindependenan mahasiswa, menjadikan mahasiswa benar-benar calon penerus generasi masa depan yang mandiri dan bertanggung jawab. tetapi kuliah mulai berjalan hari demi hari, di sini kebusukan-kebusukan sudah bisa tercium(bagi yang merasakan). tetapi yang tidak merasakan mereka hanya akan menjadi boneka-boneka bagi senior mereka dimana mereka yang di jadikan tameng akan segala sesatu. beberapa hal yang terjadi, seorang mahasiswa baru di doktrin."Negara ini butuh sebuah mortir" dimana seorang senior pergerakan mereka pernah berkata seperti itu. ketika hal itu terjadi, dan ini kasus nyata, yang masuk media dan di wawancarai juga mendapat nama adalah senior itu. sedangkan mahasiswa baru itu hanya menjadi korban.
Mahasiswa baru sekarang juga telah di arahkan untuk ke Institusi-Institusi tertentu. mahasiswa sekarang bukan lagi mengalami krisis Idealisme, tetapi benar-benar mengalami Keruntuhan Idealisme mahasiswa, dimana artinya mahasiswa sudah tidak di hargai namanya seperti dahulu. mahasiswa yang harusnya mempersiapkan dan mematangkan diri kebanyakan telah di karbit sebelum waktunya.
Masih ingatkah ketika dahulu mahasiswa bergerak dan dalam gerakan serentak bisa merubah sesuatu (1966) dan (1998). ketika pergerakan tersebut mahasiswa sangat di hargai. dan apa yang terjadi sekarang untuk saat ini.penghargaan kepada mahasiswa sudah sangat jarang dan bahkan tidak ada. ketika kita lihat mereka yang berteriak-teriak, tak ada yang memperdulikan seperti dahulu. karena mahasiswa sekarang sudah di tumpangi oleh kepentingan-kepentingan politik.
Mahasiswa baru sekarang juga telah di arahkan untuk ke Institusi-Institusi tertentu. mahasiswa sekarang bukan lagi mengalami krisis Idealisme, tetapi benar-benar mengalami Keruntuhan Idealisme mahasiswa, dimana artinya mahasiswa sudah tidak di hargai namanya seperti dahulu. mahasiswa yang harusnya mempersiapkan dan mematangkan diri kebanyakan telah di karbit sebelum waktunya.
Masih ingatkah ketika dahulu mahasiswa bergerak dan dalam gerakan serentak bisa merubah sesuatu (1966) dan (1998). ketika pergerakan tersebut mahasiswa sangat di hargai. dan apa yang terjadi sekarang untuk saat ini.penghargaan kepada mahasiswa sudah sangat jarang dan bahkan tidak ada. ketika kita lihat mereka yang berteriak-teriak, tak ada yang memperdulikan seperti dahulu. karena mahasiswa sekarang sudah di tumpangi oleh kepentingan-kepentingan politik.
Selasa, 28 Februari 2012
Bem tak beda jauh dengan DPR
Entah dari mana istilah itu muncul di otak saya.
Dulu waktu SMA saya sempet di wanti-wanti sama senior saya kalau kuliah jangan masuk di BEM, kemudian saya tanyakan mengapa ? dia hanya menjawab sudah nanti juga akan tahu sendiri, setidaknya juga harus berproses kamu sehingga kamu bisa melihat secara langsung dan tidak menjudge dan bagaimana menurut penilaianmu, sehingga kamu mendapat pemikiran mu, bukan atas pemikiranku."
kemudian saya bertanya lagi "seandainya saya pengen mengubah sistemnya." dia juga menjawab dengan jawaban yang tadi.
Terakhir saya masuk di UI. di sini di awal saya melihat waktu awal masuk (di inisiasi oleh BEM UI dan BEM Fakultas.) nah di sini awalnya saya masih belum menemukan, karena mereka sering meneriakan soal rakyat dan saya bangga akan UI juga beserta BEM dan kerabatnya. tetapi hari demi hari, saya mulai mendengar kata ini itu, ini itu dari teman-teman, saya masih belum percaya. dan bahkan terakhir saya sempet masuk ke dalam BEM UI. dan saya tidak masuk.
Sebelum2 nya berita miring itu masih tahap tentang penguasaan BEM atas suatu golongan. kalau itu saya masih bisa berkata wajar. walaupun di katakan BEM tidak independen. kalau masih baik oke.
mengutip GIE."Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi." Ternyata hal ini juga sedang terjadi.
Beberapa hari kemudian ada kegiatan SAVE danau UI. saya melihat di sini ada peristiwa yang bersamaan dengan Raker BEM UI, dan ketika hari H saya tidak melihat para anggota BEM UI 2012(Kecuali mantan ketua BEM UI 2011.) nah ketika saya bertanya kepada teman saya, masa ga ada sama sekali dari BEM UI. apalagi dari lingkungan. akhirnya saya tahu bahwa Pejabat DPR juga melakukan hal yang sama ketika dia rapat ngelencer di luar negri sedangkan tetangganya yag kelaparan di biarkan. haduh.(semoga ini jadi kritikan) saya sempet ngomong juga dengan temen BEM FIB, pas di hari yang sama Bem fasilkom raker di puncak, sedangkan BEM FIB di anyer. nah yang agak ia sesalkan dia bilang "bener juga lal, harusnya kenapa raker2 gitu gak di UI saja ya?" trus dari kami berdua muncul jawaban2 yang pasti. ada"ngebosesnin, masak di kampus lagi, gak seru, kurang asik, dan sebaginya." juga muncul pernyataan bahwa yang di gunakan ngelencer juga duit BEM UI(setidaknya itu juga duit mahasiswa). seperti DPR yang memakai duit Rakyat. juga dari temen saya lainya BEM FIB bilang di raker juga pas sidang isinya cuma pada ngantuk-ngantuk doang, kaya pejabat DPR." . waduh saya tinggal nunggu cerita2 lainya yang memperkuat OPINI saya.
Semoga hal ini bisa jadi kritikan (jangan hanya membalas dengan argumen ini itu sudah bosen dengan argumen2 bagus, kalau membalas pernyataan ini balaslah dengan Aksi nyata, sehingga BEM bisa di hargai.)
Dulu waktu SMA saya sempet di wanti-wanti sama senior saya kalau kuliah jangan masuk di BEM, kemudian saya tanyakan mengapa ? dia hanya menjawab sudah nanti juga akan tahu sendiri, setidaknya juga harus berproses kamu sehingga kamu bisa melihat secara langsung dan tidak menjudge dan bagaimana menurut penilaianmu, sehingga kamu mendapat pemikiran mu, bukan atas pemikiranku."
kemudian saya bertanya lagi "seandainya saya pengen mengubah sistemnya." dia juga menjawab dengan jawaban yang tadi.
Terakhir saya masuk di UI. di sini di awal saya melihat waktu awal masuk (di inisiasi oleh BEM UI dan BEM Fakultas.) nah di sini awalnya saya masih belum menemukan, karena mereka sering meneriakan soal rakyat dan saya bangga akan UI juga beserta BEM dan kerabatnya. tetapi hari demi hari, saya mulai mendengar kata ini itu, ini itu dari teman-teman, saya masih belum percaya. dan bahkan terakhir saya sempet masuk ke dalam BEM UI. dan saya tidak masuk.
Sebelum2 nya berita miring itu masih tahap tentang penguasaan BEM atas suatu golongan. kalau itu saya masih bisa berkata wajar. walaupun di katakan BEM tidak independen. kalau masih baik oke.
mengutip GIE."Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi." Ternyata hal ini juga sedang terjadi.
Beberapa hari kemudian ada kegiatan SAVE danau UI. saya melihat di sini ada peristiwa yang bersamaan dengan Raker BEM UI, dan ketika hari H saya tidak melihat para anggota BEM UI 2012(Kecuali mantan ketua BEM UI 2011.) nah ketika saya bertanya kepada teman saya, masa ga ada sama sekali dari BEM UI. apalagi dari lingkungan. akhirnya saya tahu bahwa Pejabat DPR juga melakukan hal yang sama ketika dia rapat ngelencer di luar negri sedangkan tetangganya yag kelaparan di biarkan. haduh.(semoga ini jadi kritikan) saya sempet ngomong juga dengan temen BEM FIB, pas di hari yang sama Bem fasilkom raker di puncak, sedangkan BEM FIB di anyer. nah yang agak ia sesalkan dia bilang "bener juga lal, harusnya kenapa raker2 gitu gak di UI saja ya?" trus dari kami berdua muncul jawaban2 yang pasti. ada"ngebosesnin, masak di kampus lagi, gak seru, kurang asik, dan sebaginya." juga muncul pernyataan bahwa yang di gunakan ngelencer juga duit BEM UI(setidaknya itu juga duit mahasiswa). seperti DPR yang memakai duit Rakyat. juga dari temen saya lainya BEM FIB bilang di raker juga pas sidang isinya cuma pada ngantuk-ngantuk doang, kaya pejabat DPR." . waduh saya tinggal nunggu cerita2 lainya yang memperkuat OPINI saya.
Semoga hal ini bisa jadi kritikan (jangan hanya membalas dengan argumen ini itu sudah bosen dengan argumen2 bagus, kalau membalas pernyataan ini balaslah dengan Aksi nyata, sehingga BEM bisa di hargai.)
Sabtu, 25 Februari 2012
Bahasa jawa keren
School of Oriental and African Studies (SOAS) London, menetapkan bahasa Jawa sebagai bahasa wajib dipelajari mahasiswanya.
Karena berdasarkan Summer Institute for Linguistics (SIL) Ethnologue Survey 2011, penutur bahasa Jawa di dunia ternyata berjumlah 77,75 juta orang, lebih banyak daripada penutur bahasa Korea yang sebanyak 76,5 juta orang maupun bahasa Perancis yang hanya... sebanyak 76 juta orang. ... Kemudian, berdasarkan penelitian, penggunaan bahasa Jawa lebih efektif dibandingkan bahasa Inggris sekalipun, setidaknya dalam 29 contoh berikut:
1. walk slowly on the edge (side) of the road = mlipir.
2. fall backward and then hit own head = nggeblak.
3. got hit by a truck that is moving backward = kunduran trek.
4. talk too much about unimportant thing = cangkeman.
5. smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it = mblonyo.
6. going without notice/permission = mlethas.
7. taking the longer way to get to the destination = ngalang
8. riding an old bicycle = ngonthel.
9. falling/ tripping forward (and may hit own face = kejlungup.
10. side effect after circumcision = gendhelen.
11. hot pyroclastic cloud rolling down a volcano = wedhus gembel.
12. a small, sharp thing embedded inside one's skin = susuben/ ketlusupen.
13. spending a lot of time doing nothing =mbathang.
14. feeling uncomfortable because there is something that smells bad = kambonan.
15. things getting out from a container accidentally because of gravity = mbrojol.
16. get hit by thing collapsing on top of one's head/ body = kambrukan
17. drinking straight from the bottle without using glass, where whole bottle tip gets into the mouth = ngokop.
18. cannot open eyes because something is shining very bright = blereng.
19. cannot hold bowel movement = ngebrok.
20. something coming out from one's rear end little by little = keceret/ kecirit.
21. hanging on tightly to something in order to be inert = gondhelan.
22. falling/ tripping accidentally because of a hole = kejeglong.
23. doing something without thinking about the consequences = cenanangan.
24. being overly active carelessly = pecicilan.
25. feeling unwell because of cold temperature = katisen.
26. making too much noise, disturbing other people= mbribeni / mbrebeki.
27. tripping over accidentally caused by wires, cloths, gowns etc. = kesrimpet.
28. being alone (or with a companion) in the corner of a place/ room doing something suspicious= mojok.
29. pretend to be homeless, no money and never take shower=nggembel
Karena berdasarkan Summer Institute for Linguistics (SIL) Ethnologue Survey 2011, penutur bahasa Jawa di dunia ternyata berjumlah 77,75 juta orang, lebih banyak daripada penutur bahasa Korea yang sebanyak 76,5 juta orang maupun bahasa Perancis yang hanya... sebanyak 76 juta orang. ... Kemudian, berdasarkan penelitian, penggunaan bahasa Jawa lebih efektif dibandingkan bahasa Inggris sekalipun, setidaknya dalam 29 contoh berikut:
1. walk slowly on the edge (side) of the road = mlipir.
2. fall backward and then hit own head = nggeblak.
3. got hit by a truck that is moving backward = kunduran trek.
4. talk too much about unimportant thing = cangkeman.
5. smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it = mblonyo.
6. going without notice/permission = mlethas.
7. taking the longer way to get to the destination = ngalang
8. riding an old bicycle = ngonthel.
9. falling/ tripping forward (and may hit own face = kejlungup.
10. side effect after circumcision = gendhelen.
11. hot pyroclastic cloud rolling down a volcano = wedhus gembel.
12. a small, sharp thing embedded inside one's skin = susuben/ ketlusupen.
13. spending a lot of time doing nothing =mbathang.
14. feeling uncomfortable because there is something that smells bad = kambonan.
15. things getting out from a container accidentally because of gravity = mbrojol.
16. get hit by thing collapsing on top of one's head/ body = kambrukan
17. drinking straight from the bottle without using glass, where whole bottle tip gets into the mouth = ngokop.
18. cannot open eyes because something is shining very bright = blereng.
19. cannot hold bowel movement = ngebrok.
20. something coming out from one's rear end little by little = keceret/ kecirit.
21. hanging on tightly to something in order to be inert = gondhelan.
22. falling/ tripping accidentally because of a hole = kejeglong.
23. doing something without thinking about the consequences = cenanangan.
24. being overly active carelessly = pecicilan.
25. feeling unwell because of cold temperature = katisen.
26. making too much noise, disturbing other people= mbribeni / mbrebeki.
27. tripping over accidentally caused by wires, cloths, gowns etc. = kesrimpet.
28. being alone (or with a companion) in the corner of a place/ room doing something suspicious= mojok.
29. pretend to be homeless, no money and never take shower=nggembel
Pembelajaran dari film hero
Film The Hero menarik, sekurang-kurangnya bagi saya sendiri. Menarik karena filofosis. Sisi kefilosofiannya terlihat dari isinya. Isinya adalah paradigma Cina yang spektakuler dan piawai itu. Selamat menikmati suguhan ulasan ekspansif sederhana film ini, tentu, dari perspektif saya sebagai peneropong.
Kaisar (raja) adalah simbol Our Land (pemersatu)
Wu Ming (nameless) adalah seorang pemuda yang kuat dan tangkas. Ia berasal dari Kerajaan Zhao, tetapi dibesarkan di Kerajaan Qin. Antara Qin dan Zhao saling bermusuhan. Demikian juga Fei Xue, Can-Jian dan Liu Shui berasal dari Zhao. Namun, di antara mereka hanya satu orang yang mengerti paradigma Cina bahwa raja tak boleh dibunuh, walaupun ia sangat kejam. Pemuda itu bernama Can Jian.
Bagi Can Jian, Kaisar adalah pemersatu dan pendamai yang dalam bahasa Can Jian (juga Wu Ming setelah disadarkan Can Jian) disebut simbol “OUR LAND”. Itu sebabnya Can Jian tidak terpengaruh dengan tindakan teman-temannya yang berusaha membunuh sang Our Land. Di akhir cerita, Wu Ming sadar “lebih baik satu orang mati demi orang banyak”. Wu Ming bersedia mati asal sang raja selamat. Raja adalah “kepala” rakyat. Raja adalah daya ikat dan daya pikat yang mempersatukan yang tercerai-berai. Jadi, di sini yang ditekankan adalah menang itu bukan berarti mengeliminasi yang lain. Perang harus berujung pada perdamaian. Tesis Can Jian ini benar. Pada tahun 201 B. C, Kaisar Qin Shi Huang menjadi raja pertama Qin dan berhasil mempersatukan masyarakat Cina. Filsafat Cina tidak mengenal dikotomi. Antara dua sisi yang berbeda “saling” menjadi bagian dari yang lain. Itu sebabnya, hal yang paling mendasar dalam paradigma Cina adalah harmoni dan keseimbangan.
Relasional-Harmoni
Harmoni adalah salah satu tema pokok filsafat Cina. Penonjolan gerak dan diam, sedikit dan banyak, kaligrafi(diam) dan panah (gerak) dalam film The Hero, sebenarnya sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa Cina berparadigma: di antara dua kutub harus dicari jalan tengah, keseimbangan, hubungan relasional-harmoni. Relasional-harmoni tersebut dapat kita lihat juga dalam beberapa paradigma Cina yang cukup filosofis.
Pertama, Yin-Yang: adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air, perempuan, simbol kematian, dan dingin. Yang itu bersifat aktif, gerak, bumi, matahari, api, laki-laki, simbol untuk hidup dan simbol panas. Segala sesuatu dalam kenyataan manusia adalah sintesis harmonis dari derajat Yin dan Yang.
Yin-Yang saling tergantung dan saling melengkapi, selalu berhubungan dan secara terus-menerus saling memberi kekuatan (simbiosis mutualistis). Jadi, antara Yin dan Yang terjadi keseimbangan, dan harmoni. Menurut Tao The Ching, suatu kekuatan, objek atau gagasan tak akan lengkap bahkan tak berarti tanpa ditunjang keadaan sebaliknya. Kesulitan dan kemudahan saling melengkapi. Panjang dan pendek saling membanding. Tinggi dan rendah saling membedakan. Kebaikan tak punya arti tanpa kejahatan, kecantikan tak akan dipandang tanpa kehadiran si buruk sebagai pembanding.
Kedua, Feng Shui: yang ditekankan adalah harmoni antara manusia dengan alamnya. Atmosfir rumah, misalnya bisa berpengaruh pada manusia yang menghuni rumah tersebut. Ketiga, Penghormatan Leluhur dan Dewa-Dewi. Di balik ritual penghormatan kepada leluhur dan dewa-dewi, sebenarnya ada yang perlu dicapai orang Cina yakni demi membina relasi terhadap leluhur dan dewa/i. Roh nenek moyang (makhluk halus) bagi orang Cina dipahami secara fisikal. Ia juga bisa memberi rezeki, dan kemakmuran kepada anak cucu-cicitnya. Oleh karena itu, relasi itu penting agar hubungan kekeluargaan (dengan nenek moyang) tidak pernah putus. Penghormatan kepada nenek moyang merupakan intisari dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Ini dikarenakan pengaruh ajaran Konfusianisme yang mengutamakan bakti kepada orang tua termasuk leluhur jauh.
Kaisar (raja) adalah simbol Our Land (pemersatu)
Wu Ming (nameless) adalah seorang pemuda yang kuat dan tangkas. Ia berasal dari Kerajaan Zhao, tetapi dibesarkan di Kerajaan Qin. Antara Qin dan Zhao saling bermusuhan. Demikian juga Fei Xue, Can-Jian dan Liu Shui berasal dari Zhao. Namun, di antara mereka hanya satu orang yang mengerti paradigma Cina bahwa raja tak boleh dibunuh, walaupun ia sangat kejam. Pemuda itu bernama Can Jian.
Bagi Can Jian, Kaisar adalah pemersatu dan pendamai yang dalam bahasa Can Jian (juga Wu Ming setelah disadarkan Can Jian) disebut simbol “OUR LAND”. Itu sebabnya Can Jian tidak terpengaruh dengan tindakan teman-temannya yang berusaha membunuh sang Our Land. Di akhir cerita, Wu Ming sadar “lebih baik satu orang mati demi orang banyak”. Wu Ming bersedia mati asal sang raja selamat. Raja adalah “kepala” rakyat. Raja adalah daya ikat dan daya pikat yang mempersatukan yang tercerai-berai. Jadi, di sini yang ditekankan adalah menang itu bukan berarti mengeliminasi yang lain. Perang harus berujung pada perdamaian. Tesis Can Jian ini benar. Pada tahun 201 B. C, Kaisar Qin Shi Huang menjadi raja pertama Qin dan berhasil mempersatukan masyarakat Cina. Filsafat Cina tidak mengenal dikotomi. Antara dua sisi yang berbeda “saling” menjadi bagian dari yang lain. Itu sebabnya, hal yang paling mendasar dalam paradigma Cina adalah harmoni dan keseimbangan.
Relasional-Harmoni
Harmoni adalah salah satu tema pokok filsafat Cina. Penonjolan gerak dan diam, sedikit dan banyak, kaligrafi(diam) dan panah (gerak) dalam film The Hero, sebenarnya sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa Cina berparadigma: di antara dua kutub harus dicari jalan tengah, keseimbangan, hubungan relasional-harmoni. Relasional-harmoni tersebut dapat kita lihat juga dalam beberapa paradigma Cina yang cukup filosofis.
Pertama, Yin-Yang: adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air, perempuan, simbol kematian, dan dingin. Yang itu bersifat aktif, gerak, bumi, matahari, api, laki-laki, simbol untuk hidup dan simbol panas. Segala sesuatu dalam kenyataan manusia adalah sintesis harmonis dari derajat Yin dan Yang.
Yin-Yang saling tergantung dan saling melengkapi, selalu berhubungan dan secara terus-menerus saling memberi kekuatan (simbiosis mutualistis). Jadi, antara Yin dan Yang terjadi keseimbangan, dan harmoni. Menurut Tao The Ching, suatu kekuatan, objek atau gagasan tak akan lengkap bahkan tak berarti tanpa ditunjang keadaan sebaliknya. Kesulitan dan kemudahan saling melengkapi. Panjang dan pendek saling membanding. Tinggi dan rendah saling membedakan. Kebaikan tak punya arti tanpa kejahatan, kecantikan tak akan dipandang tanpa kehadiran si buruk sebagai pembanding.
Kedua, Feng Shui: yang ditekankan adalah harmoni antara manusia dengan alamnya. Atmosfir rumah, misalnya bisa berpengaruh pada manusia yang menghuni rumah tersebut. Ketiga, Penghormatan Leluhur dan Dewa-Dewi. Di balik ritual penghormatan kepada leluhur dan dewa-dewi, sebenarnya ada yang perlu dicapai orang Cina yakni demi membina relasi terhadap leluhur dan dewa/i. Roh nenek moyang (makhluk halus) bagi orang Cina dipahami secara fisikal. Ia juga bisa memberi rezeki, dan kemakmuran kepada anak cucu-cicitnya. Oleh karena itu, relasi itu penting agar hubungan kekeluargaan (dengan nenek moyang) tidak pernah putus. Penghormatan kepada nenek moyang merupakan intisari dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Ini dikarenakan pengaruh ajaran Konfusianisme yang mengutamakan bakti kepada orang tua termasuk leluhur jauh.
Pluralisme
Orang Cina sangat menghargai pluralisme (keperbedaan). Penerimaan mereka terhadap pluralisme dapat kita lihat dalam paham mereka tentang beberapa ide universal, antara lain: Pertama, Toleransi. Bangsa Cina pada dasarnya menghargai pendapat orang lain, sehingga Cina memandang pluralitas sebagai hal yang mesti diterima dan wajar. Kedua, Perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris (humanis) daripada filsafat Barat. Prinsip humanis merupakan inti ajaran Konfusius.
Gerak dan Diam (hening)
Dalam film The Hero, kedua term ini begitu tampak. Pemimpin Zhao melalui kaligrafinya percaya bahwa mereka tidak apa-apa dengan serangan panah dari Qin. Zhao percaya bahwa panah (bergerak) bisa dilawan dengan hanya duduk diam sambil melukis kaligrafi. Jadi, yang bergerak dilawan dengan yang diam. Kita mungkin masih teringat kata-kata Rinzai, seorang Master Zen (sekitar abad ke-9 masehi): "Jika kamu ingin menghayati Zen dengan bergerak, hal itu berarti memasuki keheningan. Jika kamu ingin menghayati Zen di dalam keheningan, hal itu berarti memasuki gerak”. Diam, dalam filsafat Cina di sebut Chanisme, mengajarkan tentang: perwujudan ketunggalan sejati individu dengan budi semesta (kekosongan). Budi semesta dipahami sebagai wu nian (tiada pikiran), wang jing (melupakan perasaan), dan ren xin (membiarkan budi menempuh jalan sendiri)- lihat Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 4 (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989), hlm., 138.
Konstruksi Berpikir Pola Tiga
Paradigma Pola Tiga tidak hanya Cina yang memilikinya. Sunda juga sama. Walaupun dengan istilah yang berbeda : tritangtu. Pola tiga masyarakat Cina tercermin dalam paradigma berpikir dan bertindak mereka tentang filosofi pedang, marga dan harta kehidupan.
Marilah kita mengulas paham masayarakat Cina tentang pedang. Dalam film The Hero, ada 3 tahapan untuk memahami apa itu pedang. Pertama, pedang adalah manusia dan manusia adalah pedang. Singkatnya ada kombinasi antara manusia dan pedang. Bahkan rumput yang ada di tangan manusia pun bisa menjadi pedang. Kedua, pedang ada di dalam hati. Inilah yang disebut dengan tenaga dalam: melawan yang bergerak dengan sikap diam. Ketiga, tidak (perlu) ada pedang. Tahap terakhir ini merupakan tahapan tingkat tinggi. Karena di sini dipahami bahwa pedang bukan lagi untuk membunuh melainkan untuk kedamaian dan memperjuangkan hidup manusia.
Lantas bagimana paham masyarakat Cina tentang marga ? Bagi masyarakat Cina ada 3 Karakter Marga. Pertama, marga yang terdiri dari satu karakter. Kedua, marga yang berkarakter ganda. Ketiga, marga yang berkarakter 3 sampai 9. Angka 9 berarti kelipatan dari angka tiga juga. Di balik pemakaian marga ini sebenarnya juga mau mengungkapkan bahwa Cina selalu terikat pada kultur, walaupun mereka berada di perantauan. Marga inilah yang memperat tali persaudaraan, bahkan jaringan kerja dan bisnis masyarakat Cina kadang terbangun berkat daya ikat marga itu.
Terakhir adalah tentang Tiga Harta Kehidupan. Dalam ilmu kesehatan Taoisme ada tiga harta kehidupan yakni, jing (esensi), chi (energi), dan shen (spirit). Seperti Yin dan Yang, tiga harta ini berbeda namun mereka saling bergantung antara satu dengan lainnya, tetapi tidak saling melebur. Chi adalah mediator, penengah, penghubung. Menurut Taoisme, semua bentuk kehidupan di jagat ini digerakkan oleh chi yang notebene tak kelihatan, hening, tak berbentuk sebelum menembus segala sesuatu.
Marilah kita mengikuti ulasan seputar tiga harta kehidupan ini. Jing mengandung 3 unsur: esensi darah, esensi hormon, esensi yang yang termasuk cairan berat (kelenjar, pelumas di persendiaan tulang dan jaringan lain yang berhubungan dengan air mata, keringan dan urine).
Chi terbagi tiga: yuan-chi (energi primordial, biasanya ada pada anak-anak), yang-chi (energi yang berkembang dalam tubuh selama berlangsungnya hubungan seksual yang bersatu dengan kehangatan, kecerahan dan gerak) dan wei-chi (energi pelindung). Dalam versi Feng shui, energi terdiri dari 3 macam: Pertama, Heaven Chi (Tian Chi) : energi langit/semesta yang terpancar dari surga ke bumi (seperti, sinar matahari, sinar bulan, daya tarik bulan yang menyebabkan pasang-surut laut. Kedua, Di Qi atau Earth Chi: menyerap chi alam semesta dan berpengaruh terhadap bumi seisinya. Bangsa Cina percaya bahwa Earth Qi menyusun garis dan pola energi, termasuk medan magnet bumi dan medan panas bumi. Energi ini juga harus seimbang, kalau tidak maka gempa akan terjadi. Ketiga, Ren Chi (energi manusia) yang terpengaruh oleh chi Tian Chi, dan Di Qi.
Nah, harta kehidupan terakhir bagaimana? Taoisme menerima shen (spirit) sebagai kumpulan bunga-bunga dari “tri-tunggal” Tao, yang melayani esensi tubuh seperti layaknya akar pohon dan energi sebagai batang penghubung.
Sirkulasi Energi dan Feng Shui
Dalam ilmu Feng Shui, diyakini bahwa pada dasarnya semua yang ada di jagad raya ini adalah energi (panas, kimia, gerak, cahaya, elektromagnetis, dll.). Oleh sebab itu, siklus energi dalam rumah, misalnya akan berpengaruh pada banyak aspek kehidupan penghuninya. Manfaat Feng Shui dalam rumah sangat berarti terutama dalam menjaga kesehatan dan juga mengantisipasi gangguan lainnya bagi sipenghuni rumah. Misalnya, pasangan suami istri susah mendapatkan anak, bisa jadi karena ada yang tidak cocok dengan tata rumah, ranjang, asesoris rumah lainnya. Singkatnya, Cina berparadigma (dalam feng shui) bahwa manusia mesti menyatu dengan alamnya. Makanya, feng shui juga diartikan sebagai tatanan yang harmonis antara alam dengan makhluk hidup. Tegasnya, Feng Shui mengajarkan pada kita bahwa kita mesti bersahabat dengan alam. Alam itu sangat mempengaruhi hidup-matinya manusia!
Sebagian paradigma Cina di atas terdapat juga dalam kebudayaan Indonesia. Misalnya, feng shui yang mengajarkan bahwa atmosfir di sekitar rumah (termasuk tata letak) mempengaruhi penghuninya, hal itu juga diyakini masyarakat Nias. Di Pulau Nias, ukuran rumah, dan letak rumah (misal, pintu menghadap ke mana: Timur atau Barat, Selatan atau Utara), selalu dicocokkan dengan ukuran badan kepala keluarga. Kalau tidak, rumah tersebut menjadi penghalang rezeki bagi sipenghuninya. Sehingga, saya berhipotesis: Filsafat Cina ini, sebenarnya mewakili filsafat Asia, yang notabene tak kalah canggihnya dengan filsafat Barat. Jika Filsafat Asia (Cina) menekankan harmoni, dan relasional. Barat menekankan dualisme, bipolar, antagonistic (misalnya, a dan bukan a) yang selalu dipertentangkan, bukan diperpadukan dan diseimbangkan.
Berdasarkan paradigma-paradigma di atas, masyarakat Cina itu selalu menekankan sisi mistik, sedangkan Barat adalah sisi rasionalitas. Mungkin bagi Cina sendiri, paradigma mereka adalah sesuatu yang rasional. Sedangkan paradigma Barat (bagi Cina) sesuatu yang irasional, demikian sebaliknya. Oleh karena itu, tentu kedua kubu ini selalu menawarkan kebenaran dan paradigmanya sesuai cara berpikirnya. Hal lain yang perlu saya komentari adalah jika Barat melihat waktu secara linear, masyarakat Cina melihatnya lain: siklis. Hal itu bisa kita lihat dalam paradigma Cina bahwa jagad raya ini, diatur oleh sirkulasi energi. Pada titik itu, jangan-jangan paradigma Cina ini, bertendensi seperti teorinya Einstein yang mengatakan: materi = immaterial, yang ujung-ujungnya mengakui bahwa yang kekal di jagad ini adalah energi. Menurut Bpk. Prof., Dr. Ign. Bambang Sugiharto (dalam kuliah logika dan Bahasa), penekanan pada energi, relasional dan harmoni itu sangat kental dalam teori Santiago; walaupun dengan bahasa yang agak berbeda, yakni bahwa yang kekal adalah tendensi. Tendensi bisa diartikan sebagai energi. Sedangkan prinsip relasional a la Santiago adalah bahwa segala makhluk di alam ini berada dalam jaring-jaring interaksi kognitif, ibarat rantai makanan. Jika demikian, energi dan relasi itu sangat penting untuk memahami realitas. Saya sangat kagum akan paradigma-paradigma Cina ini, terutama kecanggihan mereka memadukan antara kebudayaan dengan kecanggihan rasionalitas dan logika hati. Misalnya, feng shui sering dirasionalisasikan ibarat ilmu fisika, dan seolah-olah tidak berdimensi klenik. Memang, Feng Shui itu adalah local genius yang perlu dipelihara dan dikembangkan. \
Selasa, 21 Februari 2012
Nikmatnya Mahasiswa
Saksi dari setiap penguasa, saksi dari sebuah penghianatan, kekejian, pemberontakan, perlawanan dan pembantaian. saksi bisu dari tekanan para penguasa untuk di jadikan anjing penjilat, apakah selamanya aka seperti ini. ketika masuk sebagai Mahasiswa ternyata mahasiswa sekarang hanya menggembar-gemborkan demokrasi, rakyat ke bobrokan pemerintah.
sangat saya sayangkan ketika melihat se kelompok anak yang mengaku sebagai mahasiswa dari dalam mobil. melewati sebuah gang becek penuh dengan orang2 pinggiran dengan lagaknya memencet klakson keras2. ketika seorang mahasiswa habis shalat dari masjid besar melihat pengemis hanya terdiam tanpa mau tahu apa yang terjadi dan mengapa pengemis itu sampai mengemis(ceramah jum'at hanya sebagai rutinitas kepada yang mengaku dekat dengan sang pencipta tanpa mau meresapi dan mengamalkan). melihat beberapa mahasiswa dengan enaknya berkata bahwa kami yang paling benar dan selain kelompoknya di anggap salah. dengan enaknya hari ini bisa makan makanan lezat, tidur dengan kasur yang empuk, minuman yang menyegarkan dan dingin, berselimutkan kain hangat, bisa belajar dengan nikmat karena fasilitas yang tersedia.
Begitu nikmatnya mahasiswa, begitu nikmatnya bisa menikmati batangan rokok, , begitu nikmat bisa menikmati pembelajaran yang layak, menikmati dinginya AC, dan menikmati semua fasilitas yang ada. Oh mulyanya para Para Mahasiswa.
Sebuah pilihan ketika selesei sebagai mahasiswa akankah bisa mengabdikan hidupnya dan siap hidup lebih buruk dari rakyat biasa atau malah meneruskan generasi-generasi yang lama dengan santainya duduk di kursi empuk dan membuat semua kebijakan-kebijakan pemerintahan yang ada.
dan maafkan aku negaraku kalau aku belum bisa mengabdi dengan sepenuh hati walau kau telah memberiku penghidupan, aku berharap kelak akan benar-benar mengabdikan diriku
Langganan:
Postingan (Atom)