Rabu, 28 September 2016
Senin, 26 September 2016
Bicara Nasionalisme
Bro bicara Soal nasionalisme Indonesia
Kalian tahu siapa orang pertama kali yang mencanangkan?
Orang arab?, Cina? Jawa? Sumatra?
eh elu pada ya kalau ngomongin soal nasionalisme jangan tanyakan sukunya,
tapi tanyakan apa yang telah engkau perbuat untuk bangsa
Ya Beliau adalah Ernest Eduward Douwes Dekker
maap kalau saya bacanya salah, nama lAINYA adalah Danudirja Setiabudi
nih nama bokapnya Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker
bu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, dari pasangan Jerman-Jawa
Kalau ngomong secara darah, darah pribuminya cuman dari kakek-neneknya dari garis emaknya.
Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di Universitas Zürich, Swiss,
dalam bidang ekonomi. Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya.
Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salah satu pengujinya.
Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India,
ia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ia ditahan di Singapura (1918).
Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda 1920
Tak lama setelah kembali ia segera terlibat dalam posisi-posisi penting di sisi Republik Indonesia.
Pertama-tama ia menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir III,
yang hanya bekerja dalam waktu hampir 9 bulan. Selanjutnya berturut-turut ia menjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda,
konsultan dalam komite bidang keuangan dan ekonomi di delegasi itu, anggota DPA, pengajar di Akademi Ilmu Politik,
dan terakhir sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan.
Di mata beberapa pejabat Belanda ia dianggap "komunis" meskipun ini sama sekali tidak benar.
Pada periode ini DD tinggal satu rumah dengan Sukarno. Ia juga menempati salah satu rumah di Kaliurang. Dan dari rumah di Kaliurang inilah pada tanggal 21 Desember 1948 ia diciduk tentara Belanda yang tiba dua hari sebelumnya di Yogyakarta dalam rangka "Aksi Polisionil".
Setelah diinterogasi ia lalu dikirim ke Jakarta untuk diinterogasi kembali.
Tak lama kemudian DD dibebaskan karena kondisi fisiknya yang payah dan setelah berjanji tak akan melibatkan diri dalam politik. Ia dibawa ke Bandung atas permintaannya. Harumi kemudian menyusulnya ke Bandung.
Setelah renovasi, mereka lalu menempati rumah lama (dijulukinya "Djiwa Djuwita") di Lembangweg.
Di Bandung ia terlibat kembali dengan aktivitas di Ksatrian Instituut.
Kegiatannya yang lain adalah mengumpulkan material untuk penulisan autobiografinya (terbit 1950: 70 jaar konsekwent) dan merevisi buku sejarah tulisannya.
Ernest Douwes Dekker wafat dini hari tanggal 28 Agustus 1950 (tertulis di batu nisannya; 29 Agustus 1950 versi van der Veur, 2006)
dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.
Jasa DD dalam perintisan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal.
Di setiap kota besar dapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi.
Jalan Lembang di Bandung utara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi.
Di Jakarta bahkan namanya dipakai sebagai nama suatu kecamatan, yakni Kecamatan Setiabudi di Jakarta Selatan.
Di Belanda, nama DD juga dihormati sebagai orang yang berjasa dalam meluruskan arah kolonialisme
(meskipun hampir sepanjang hidupnya ia berseberangan posisi politik dengan pemerintah kolonial Belanda; bahkan dituduh "pengkhianat").
So kalian masih menganggap bahwa nasionalisme itu berdasarkan Ras? suku? Agama?
Elu ga pernah Belajar Sejarah
Lain kali tak kasih Versi Youtub gan
Kalian tahu siapa orang pertama kali yang mencanangkan?
Orang arab?, Cina? Jawa? Sumatra?
eh elu pada ya kalau ngomongin soal nasionalisme jangan tanyakan sukunya,
tapi tanyakan apa yang telah engkau perbuat untuk bangsa
Ya Beliau adalah Ernest Eduward Douwes Dekker
maap kalau saya bacanya salah, nama lAINYA adalah Danudirja Setiabudi
nih nama bokapnya Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker
bu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, dari pasangan Jerman-Jawa
Kalau ngomong secara darah, darah pribuminya cuman dari kakek-neneknya dari garis emaknya.
Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di Universitas Zürich, Swiss,
dalam bidang ekonomi. Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya.
Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salah satu pengujinya.
Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India,
ia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ia ditahan di Singapura (1918).
Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda 1920
Tak lama setelah kembali ia segera terlibat dalam posisi-posisi penting di sisi Republik Indonesia.
Pertama-tama ia menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir III,
yang hanya bekerja dalam waktu hampir 9 bulan. Selanjutnya berturut-turut ia menjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda,
konsultan dalam komite bidang keuangan dan ekonomi di delegasi itu, anggota DPA, pengajar di Akademi Ilmu Politik,
dan terakhir sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan.
Di mata beberapa pejabat Belanda ia dianggap "komunis" meskipun ini sama sekali tidak benar.
Pada periode ini DD tinggal satu rumah dengan Sukarno. Ia juga menempati salah satu rumah di Kaliurang. Dan dari rumah di Kaliurang inilah pada tanggal 21 Desember 1948 ia diciduk tentara Belanda yang tiba dua hari sebelumnya di Yogyakarta dalam rangka "Aksi Polisionil".
Setelah diinterogasi ia lalu dikirim ke Jakarta untuk diinterogasi kembali.
Tak lama kemudian DD dibebaskan karena kondisi fisiknya yang payah dan setelah berjanji tak akan melibatkan diri dalam politik. Ia dibawa ke Bandung atas permintaannya. Harumi kemudian menyusulnya ke Bandung.
Setelah renovasi, mereka lalu menempati rumah lama (dijulukinya "Djiwa Djuwita") di Lembangweg.
Di Bandung ia terlibat kembali dengan aktivitas di Ksatrian Instituut.
Kegiatannya yang lain adalah mengumpulkan material untuk penulisan autobiografinya (terbit 1950: 70 jaar konsekwent) dan merevisi buku sejarah tulisannya.
Ernest Douwes Dekker wafat dini hari tanggal 28 Agustus 1950 (tertulis di batu nisannya; 29 Agustus 1950 versi van der Veur, 2006)
dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.
Jasa DD dalam perintisan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal.
Di setiap kota besar dapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi.
Jalan Lembang di Bandung utara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi.
Di Jakarta bahkan namanya dipakai sebagai nama suatu kecamatan, yakni Kecamatan Setiabudi di Jakarta Selatan.
Di Belanda, nama DD juga dihormati sebagai orang yang berjasa dalam meluruskan arah kolonialisme
(meskipun hampir sepanjang hidupnya ia berseberangan posisi politik dengan pemerintah kolonial Belanda; bahkan dituduh "pengkhianat").
So kalian masih menganggap bahwa nasionalisme itu berdasarkan Ras? suku? Agama?
Elu ga pernah Belajar Sejarah
Lain kali tak kasih Versi Youtub gan
Selasa, 21 Juni 2016
Puasa 2016
Aku mendapati sang fajar yang mendapatkan banyak teman sebelum kedatangannya. Ia berbisik lirih,"aku mendapatkan teman banyak dalam satu bulan selama setahun, akan tetapi teman2 sejatiku hanya mereka yang berkarya tanpa lelah dan mau menunggu kedatanganku"
Catatan tahun lalu yang ku tulis di facebook. sama yang terjadi saat puasa. gambar di atas saya ambil saat di wonosobo. dimana pada saat itu siang hari dengan cuaca dingin yang pastinya membuat sejuk di saat puasa. semoga puasa tahun ini menjadi puasa berkah bagi kita semua. :D
setelah sekian lama gak update, waktunya masuk dunia tulisan kembali
Catatan tahun lalu yang ku tulis di facebook. sama yang terjadi saat puasa. gambar di atas saya ambil saat di wonosobo. dimana pada saat itu siang hari dengan cuaca dingin yang pastinya membuat sejuk di saat puasa. semoga puasa tahun ini menjadi puasa berkah bagi kita semua. :D
setelah sekian lama gak update, waktunya masuk dunia tulisan kembali
Selasa, 14 Mei 2013
Episode 1, legend Of The Lost Middle Continent
“sshh…..hahh…..hahh…
hahh…, semangat cuy!, sebentar lagi sampai, kita sudah memasuki hutan wilayah
puncak.” Cahaya bulan Purnama menembus dedaunan hutan yang lebat,
sorotan-sorotan cahaya sebagian mengenai tanah dan kayu pepohonan.lampu senter
di gunakan untuk menerangi jalanan di tanah. Empat orang Pemuda dengan membawa
ransel besar terus melangkah sambil menahan dingin. Rasa dingin semakin
bertambah dengan hembusan angin yang melalui sela-sela rimbunan pepohonan
Tremulus. Sebelum mencapai puncak tertinggi, di sebelah kanan jalan terdapat
hamparan luas yang menunjukan beberapa puncak yang terlihat, karena cahaya
bulan Purnama yang menyinari punggungan-punggungan . Pemandangan Indah
sekaligus suara dengungan serangga dan belaian lembut angin menjadikan siapapun
yang melihat menikmatinya. Sejenak empat orang istirahat sambil bercengkrama
dan Songko salah satu pendaki membuka bekal Kopi hangat yang telah di masukan
di dalam tremos dan membagikan kepada 3 orang temanya secara bergantian. Sambil
Istirahat Bima membuka bekal Air putih dari botol besar. Sedangkan dua orang
lainya Malud dan Jager mengecek alat-alat jalan. Dan jager mulai pembicaraan.
“Cahaya
Bulan purnama kali ini memberikan keindahan tersendiri, punggungan gunung yang
harusnya berwaena hijau menjadi tampak keemasan.” Sambil menyeruput Kopi di
dalam tutup tremos. Bulan kali ini memberikan pemandangan tersendiri dengan
cahaya Halo bulan mengelilingi bulan dan Nampak seperti Pelangi.
“Ha
ha ha, sok romantis kau Jag, lihatlah yang lebih bagus lagi, Cahaya bulan pinggiranya
memiliki warna pelangi.” Timpal Malud. Mereka berempat benar-benar menikmati
apa yang ada saat itu.
“Hm……Andai
di sini ada cewek cantik yang menemani, Asek.” Songko menimpali.
“Pikiranmu
itu perempuan melulu, kapan tho kamu mikir lainya.” Bima ikut nimbrung.
“Ha
ha ha ha yang penting saya masih Normal, karena saya masih suka cewek. We…”
“Sudah,
sudah ayo segera berangkat, puncak sebentar lagi. Daripada ketiduran di sini.”
“Yoi…”
semua menyetujui, segera packing dan mereka langsung menaiki. Dan segera
berangkat menuju menuju ke arah puncak. Jalanan tanah hitam dngan akar yang
merambat di mana-mana, rumput heterogen, dan daun-daun kering yang berserakan
juga terkena sebagian cahaya bulan menjadi petunjuk tersendiri bagi mereka
untuk menghemat Senter.
Sejenak
hewan-hewan malam mulai menunjukan kegiatanya. Burung-burung berterbangan,
serangga-serangga mulai mengeraskan suaranya, nyanyian angin membelah hutan
tremulus, aura dingin tetap menyelimuti tempat itu. Tremulus 1537 menjadi saksi
bahwa kesunyian malam dan dalam tidurnya yang lama telah kedatangan tamu, yaitu
empat pemuda tadi.
Semak-semak di siakan dengan tangan
leader, yaitu songko, sedangkan yang lainya membantu membawa logistic yang
cukup berat. Ketika mendekati puncak jalan mulai rata. Jalanan mendekati puncak
memang landai, karena sudah memasuki punggungan puncak. Hal ini cukup melegakan
mereka, setelah melewati gerbang pohon besar sampailah mereka di puncak
tremulus. Di sana ada sebuah Gubuk dan di dekat gubuk terdapat sebuah bangunan
kuno berbentuk Aneh, masyarakat menyebut itu sebagai watu payon.
Sejenak mereka berleha-leha, “Jag,
jam berapa, cek.”
“Hampir
jam 12 malam Mal.”,
“Yausudah
seperti biasa” mendangar kata itu, langsung mereka semua mengambil tugas-
masing-masing. Mulai dari Malud mengecek alat dan logistic, Jager bagian
mempersiapkan makanan, Songko mencari kayu dan Bima segera mempersiapkan tempat
untuk istirahat. Mereka telah sibuk dengan apa yang di lakukanya masing-masing.
Cahaya bulan semakin menguat, hal itu menyebabkan malam itu seolah-olah siang
bermendung. Hal ini tidak seperti biasa, mereka yang harusnya menyalakan lampu,
akhirnya tidak menyalakan, karena Cahaya bulan telah memberikan sinar yang
sangat terang dari biasanya.
“He
Mal, aneh ya, kok terang banget nggak seperti biasanya. Lihat Halonya,
cahayanya mengelilingi bulan luas sekali.”
“Bener
ger, baru kali ini lho saya melihat hal ini. Wah saya tidak rugi ikut naik kali ini.
Pemandanganya juga dapat. He he he he.”
“tapi
kok perasaanku tidak enak ya. Apa tadi ada yang salah ya?”
Tiba-tiba
Songko dan Bima mendekat.
“,
aneh Jag, kayu-kayu yang harusnya basah oleh embun, jam segini banyak yang
kering, benar-benar rezeki.”
“Ya
hewan-hewan tidak seperti tadi, malam ini benar-benar sunyi.”
“Bim,
Jag, Mal tanah juga kering, hal ini kayakna benar-benar membantu kita, paling
hanya dingin malam ini yang menjadi penghadang, ha ha ha ha.”
Sejenak
Jager merenung, Di saat Bima mau menyalakan api, tiba-tiba Jager Berteriak
“Jangan nyalakan!”
Semua
kaget “Ada apa Jag!.” Malud mulai berbicara.
“Kalau
ada percikan api terbakar terjadi, api sangat mudah sekali merambat, dan cuaca
kali ini benar-benar aneh, apa kalian tidak merasakanya.” Semuanya diam
sejenak, dan merenung masing-masing.
Di
antara perenungan.”Coba jag lihat jam berapa dan ini tanggal berapa?” Bima
mulai berbicara memecah keheningan. “yo ini tanggal 11 menuju tanggal 12, jam
dua belas kurang lima menit, bulan 12.”
“ya
sudah di nikmati saja dulu pemandanganya, sambil persiapan untuk makan”.
Semuanya sejenak terdiam dan menikmati keindahan dan kesunyian dewi malam.
Tepat
jam 12 malam. Cahaya bulan lurus tepat di atas Gunung tremulus, aura semakin
dingin, di sebuah bangunan tua, watu payon, cahaya berkumpul di batu tersebut.
Empat pemuda itu terkaget. Segeralah mereka mendekati tempat itu, mereka semua
terkagum-kagum dengan pa yang mereka lihat dan mulai mendekati batu tersebut
dengan Simbol Lingkaran ada tanda Plus di tengah yang mengumpulkan cahya
membuat cahaya semakin kuat dan cahaya itu meledak. Senyap, hilang dan lenyap.
Hanya menyisakan Kesunyian Malam.
Oleh : @jalalsangar
Dilarang keras mempublikasikan tanpa Izin Pengarang
Sabtu, 09 Februari 2013
10 tempat di indonesia yang membuat serasa keliling Dunia
Nusantara yang tersebar di indonesia itu sangat Uniq, dan tersebar sangat banyak suku dan sekaligus dengan iklim yang bervariatif dari yang paling panas sampai yang dingin sekalipun. dengan budaya yang beragam juga memiliki berbagai hal-hal ghaib yang berbeda
- ingin merasakan suasana Kanada, silahkan kunjungi segara anakan rinjani
- Ingin Merasakan salju di Indonesia, silahkan ke Cartenz Pyramid
- ingin serasa gurun pasir sahara silahkan ke gurun pasir Bromo
- ingin merasakan padang rumput atau stepa silahkan pergi ke wilayah Nusa tenggara
- ingin merasakan Hutan rimba tropis seperti di amazon atau kongo silahkan mampir ke pedalaman
kalimantan
- ingin merasakan udara segar bagaikan di swiss silahkan ke dieng
- ingin merasakan suasana mini redwood kaya di amrik silahkan kunjungi Pinus di aceh
- ingin menikmati savana mini afrika silahkan ke Baluran
- serasa di mini niagara silahkan ke poso Sulawesi
- dan serasa di Venisia versi Indonesia
- ingin merasakan suasana Kanada, silahkan kunjungi segara anakan rinjani
- Ingin Merasakan salju di Indonesia, silahkan ke Cartenz Pyramid
- ingin serasa gurun pasir sahara silahkan ke gurun pasir Bromo
- ingin merasakan padang rumput atau stepa silahkan pergi ke wilayah Nusa tenggara
- ingin merasakan Hutan rimba tropis seperti di amazon atau kongo silahkan mampir ke pedalaman
kalimantan
- ingin merasakan udara segar bagaikan di swiss silahkan ke dieng
- ingin merasakan suasana mini redwood kaya di amrik silahkan kunjungi Pinus di aceh
- ingin menikmati savana mini afrika silahkan ke Baluran
- serasa di mini niagara silahkan ke poso Sulawesi
- dan serasa di Venisia versi Indonesia
Jumat, 23 November 2012
ISRAEL ANTARA SHAKASPEARE DAN CHEKOV*
Oleh A Sahal,,,,,,,,......
Konflik antara Israel dan Palestina, kata sastrawan Israel Amos Oz, adalah tragedi setragis-tragisnya. Karena yang menyulut konflik tersebut adalah benturan dua klaim yang sama-sama tidak mau mengalah. Lantas bagaimana mungkin tragedi semacam ini bisa disudahi? Amos Oz menyebutkan dua pilihan cara penyelesaian: model Shakespeare atau model Chekov.
Pada model Shakespeare, konflik berakhir ketika semua pihak yang terlibat saling menghabisi satu sama lain, sehingga pada akhir cerita semua mati terbunuh. Lihatlah misalnya babak akhir lakon “Hamlet.” Duel antara Hamlet dan Laertes tidak hanya berujung pada kematian keduanya, melainkan juga menyeret ibunda Hamlet, Gertrude, dan raja Claudius ke liang lahat.
Sebaliknya, pada model Chekov, konflik diselesaikan melalui resolusi yang sama sekali jauh dari memuaskan siapapun, mengecewakan, dan bahkan mungkin menyisakan luka. Namun, masing-masing pihak tetap hidup.
Oz sendiri menaruh harapan agar negaranya memilih model Chekov dan bukan Shakespeare dalam menangani perseturuannya dengan Palestina. Artinya, jalan perundingan, bukan jalan militer. Sebab menurutnya, sejelek-jeleknya kompromi tetap lebih baik daripada perang habis-habisan a la duel Hamlet. Harapan yang masuk akal, mengingat Amos Oz adalah pendiri gerakan Shalom Achshav (Damai Sekarang) yang gencar menentang kebijakan pemerintahnya menyangkut West Bank dan Gaza.
Namun harapan novelis Israel itu tampaknya hanya menjadi suara ayup yang melemah, ketika politik Israel semakin diwarnai oleh menguatnya kelompok sayap kanan di Israel, yang dibarengi dengan merosotnya kekuatan gerakan kiri.
Harap diingat, dikotomi "kanan-kiri" dalam nomenklatur politik Israel lebih banyak terkait dengan isu keamanan nasional ketimbang ekonomi. “Kanan” di sini bukan berarti liberalisme, melainkan sikap hawkish yang mengandalkan jalan militer dan anti kompromi menyangkut tanah pendudukan. Sedangkan “kiri” tidak mengacu pada sosialisme, tapi pada sikap dovish yang mengutamakan negosiasi,dan juga kesediaan melepas Gaza dan Tepi Barat kepada rakyat Palestina demi tercapainya solusi damai antara Israel dan Palestina (land for peace).
Gejala ini secara nyata tercermin dalam pemilu Israel baru-baru ini (2009). Fakta bahwa tokoh seperti Netanyahu atau Avigdair Lierbeman semakin meroket popularitasnya menujukkan betapa sikap hawkish sedang laku keras di Israel
Netanyahu yang kini memimipin partai Likud jelas-jelas menyatakan hendak mempertahankan wilayah pendudukan. Sedangkan Lieberman, pemimpin partai baru Yisra’eli Beininu, merupakan politisi ultranasionalis yang dikenal rasis terhadap warga negara Israel keturunan Arab, yang jumlahnya hampir mencapai 20 persen dari total populasi negeri itu. Ia bahkan menuduh mereka sebagai musuh dalam selimut, yang lebih loyal terhadap Palestina dibanding kepada negerinya sendiri.
Pada tingkat tertentu, penguatan kubu hawkish di Israel ini dipicu oleh supremasi Hamas di Gaza yang bertekad menghancurkan Israel. Begitu juga sebaliknya. Naiknya pamor Hamas tak bisa dilepaskan dari menguatnya kelompok kanan di Israel, yang terdiri dari para pemilih dan simpatisan partai Likud, kaum Yahudi ultra-Orthodox, dan mayoritas imigran dari Rusia pasca tumbangnya Soviet.
Kita sering mendengar alasan membela diri sebagai faktor yang mendorong Israel menyerang Gaza. Tapi tunggu dulu. Hamas pun bisa mengklaim hal yang sama, misalnya dengan berdalih serangan roketnya ke Israel juga demi membela diri dari blokade ekonomi dan sosial yang diberlakukan Israel atas Gaza. Dengan kata lain, yag sesungguhnya terjadi adalah ini: kedua belah pihak mengalami militansinya masing-masing.
Bagaimana kita memahami fenomena itu? Sejauh menyangkut Israel, akar masalahnya sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Hamas lahir. Tepatnya setelah Israel berhasil meluluhlantakkan, dalam waktu singkat, kekuatan bersenjata gabungan Mesir, Jordan, dan Syiria pada peperangan tahun 1967, yang lazim dikenal sebagai “Perang Enam Hari.”
Sebelum tahun 1967, sikap Israel terhadap Arab secara umum mengacu pada konsep “tembok besi” yang dirumuskan oleh Vladimir Jabotinsky. Nama ini memang sering diasosiasikan dengan Zionisme revisionis yang menjadi sumber inspirasi partai sayap kanan Likud. Tapi esainya berjudul “Tembok Besi: Kita dan Arab” yang terbit pada 1920an menunjukkan bahwa pandangan Zionis kelahiran Odessa ini sejatinya mengandung muatan yang tak bisa begitu saja dinisbatkan ke ideologi hawkish Partai Likud.
Apa itu strategi “tembok besi’? Menurut Jabotinsky, Israel harus mengakui adanya pertautan alamiah antara bangsa Palestina dengan tanah kelahiran mereka, “seperti halnya pertautan bangsa Aztecs pada Mexico atau suku Sioux pada tanah rerumputan mereka.” Karena itu bisa dimaklumi kalau mereka menentang berdirinya negara Yahudi di Palestina, yang mereka anggap sebagai kolonisasi. Kata Jabotinsky, “seandainya kita Arab, kita akan menentangnya juga.”
Dari situ ia kemudian menegaskan bahwa bangsa Arab tidak akan dengan sukarela mengakui kehadiran negara Yahudi di Palestina. Karena itu menurutnya, untuk merealisasikan proyek Zionisme, kaum Yahudi mesti membangun kekuatan militer yang betul-betul kokoh laksana tembok besi, sehingga setiap usaha bangsa Arab untuk menghancurkannya akan berakhir dengan sia-sia
Jabotinsky meyakini kegagalan terus menerus yang diderita bangsa Arab akan membuat mereka lambat laun menjadi kompromistis, dan akhirnya menerima kehadiran Israel. Dengan kata lain, buat Jabotinsky, kekuatan militer bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana pemaksa agar pihak Arab bersedia berunding dengan Israel.
Tapi setelah berhasil menduduki Gaza, Tepi Barat, dan wilayah Arab lain menyusul kemenangannya pada perang 1967, Israel seperti terpukau dengan kedigdayaannya sendiri. Strategi tembok besi ala Jabotinsky lantas ditinggalkan. Israel tidak lagi menempatkan kompromi sebagai tujuan akhir dari kebijakan politik mereka.
Sikap anti kompromi ini menjadi semakin mengeras dengan adanya dukungan dari kelompok yang senantiasa bersinergi. Pertama kelompok fundamentalis Yahudi yang tergabung dalam Gush Emunim, yang meyakini Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem sebagai anugerah Tuhan kepada bangsa Yahudi di Israel, dan karena itu “haram” hukumnyadikembalikan ke bangsa Arab. Kedua adalah partai Likud yang sejak awal getol memperjuangkan gagasan tentang “Israel Raya” yang mencakup keseluruhan wilayah Israel dan Palestina.
Sikap anti kompromi yang ditampilkan Israel inilah yang terbukti selalu menjadi batu sandungan bagi setiap pembicaraan damai dengan pihak Arab. Sampai sekarang.
Pada 2002, misalnya, Liga Arab dengan juru bicara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi menawarkan hubungan penuh dengan Israel asalkan Israel mau kembali ke wilayahnya sebelum perang 1967. Tapi dengan ketus Israel menolaknya. Bahkan Hamas juga pernah menawarkan gencatan senjata 30-40 tahun dengan catatan Israel menarik diri dari pendudukan. Israel lagi-lagi menampiknya.
Artinya apa? Kalau kita kembali kepada Amos Oz, Israel menempuh jalan Chekov ketimbang Shakespeare bukan karena semata-mata pengaruh faktor luar ( Hamas), melainkan terutama justru akibat dari dinamika internalnya sendiri.
Ironisnya, Israel juga didera oleh rasa terkepung yang akut sehingga senantiasa melihat sekelilingnya sebagai ancaman. Setidaknya itu terlihat pada serangan mereka ke Gaza. Rasa terkepung ini muncul karena Israel selalu melihat dirinya sebagai korban, dan pada saat yang sama punya kekuatan militer yang tak tertandingi di Timur Tengah, plus dukungan yang hampir total dari Amerika. Nah, kombinasi antara kekuatan yang tak tepermanai yang dimiliki Israel plus persepsi diri sebagai korban pada akhirnya menyebabkan Israel selalu merasa terancam. Ungkapan “Jika yang anda punya hanya palu, dunia sekitar akan tampak seperti paku” rasanya tepat sekali melukiskan tabiat Israel.
Apa yang terjadi pada Israel saat ini sungguh terasa absurd, bahkan kalau hal itu dilihat dari perspektif zionisme. Ketika Theodor Herzl, mencetuskan ide negara Yahudi pada akhir abad 19, bapak Zionisme itu mendambakan agar dengan mempunyai Negara sendiri, bangsa Yahudi, yang bisa hidup normal seperti bangsa-bangsa lain.” Menurut Herzl, dua ribu tahun lamanya bangsa Yahudi hidup abnormal, yakni terpencar dalam diaspora tanpa negara. Oleh karena itu mereka rentan menjadi target serangan antisemitisme di Eropa . Berdirinya Negara Israel oleh Herzl dimaksudkan agar bangsa Yahudi bisa keluar dari abnormalitas tersebut. Harapannya adalah agar ancaman antisemitisme lenyap.
Tapi setelah lebih enam dasawarsa berdiri, Israel mengidap sindrom mentalitas terkepung. dan antisemitisme justru semakin meluas. Apakah kehidupan semacam ini yang dibayangkan oleh Herzl sebagai "normal" sebagaimana bangsa-bangsa lain?
Entahlah. Yang pasti, mentalitas terkepung semacam inilah yang menyebabkan harapan Amos Oz terhadap negerinya tidak tercapai. Karena terbukti Israel condong kepada model Shakespeare dan menjauhi model Chekov.
(* kolom TEMPO, 16 Februari 2009, dengan sedikit revisi)
Konflik antara Israel dan Palestina, kata sastrawan Israel Amos Oz, adalah tragedi setragis-tragisnya. Karena yang menyulut konflik tersebut adalah benturan dua klaim yang sama-sama tidak mau mengalah. Lantas bagaimana mungkin tragedi semacam ini bisa disudahi? Amos Oz menyebutkan dua pilihan cara penyelesaian: model Shakespeare atau model Chekov.
Pada model Shakespeare, konflik berakhir ketika semua pihak yang terlibat saling menghabisi satu sama lain, sehingga pada akhir cerita semua mati terbunuh. Lihatlah misalnya babak akhir lakon “Hamlet.” Duel antara Hamlet dan Laertes tidak hanya berujung pada kematian keduanya, melainkan juga menyeret ibunda Hamlet, Gertrude, dan raja Claudius ke liang lahat.
Sebaliknya, pada model Chekov, konflik diselesaikan melalui resolusi yang sama sekali jauh dari memuaskan siapapun, mengecewakan, dan bahkan mungkin menyisakan luka. Namun, masing-masing pihak tetap hidup.
Oz sendiri menaruh harapan agar negaranya memilih model Chekov dan bukan Shakespeare dalam menangani perseturuannya dengan Palestina. Artinya, jalan perundingan, bukan jalan militer. Sebab menurutnya, sejelek-jeleknya kompromi tetap lebih baik daripada perang habis-habisan a la duel Hamlet. Harapan yang masuk akal, mengingat Amos Oz adalah pendiri gerakan Shalom Achshav (Damai Sekarang) yang gencar menentang kebijakan pemerintahnya menyangkut West Bank dan Gaza.
Namun harapan novelis Israel itu tampaknya hanya menjadi suara ayup yang melemah, ketika politik Israel semakin diwarnai oleh menguatnya kelompok sayap kanan di Israel, yang dibarengi dengan merosotnya kekuatan gerakan kiri.
Harap diingat, dikotomi "kanan-kiri" dalam nomenklatur politik Israel lebih banyak terkait dengan isu keamanan nasional ketimbang ekonomi. “Kanan” di sini bukan berarti liberalisme, melainkan sikap hawkish yang mengandalkan jalan militer dan anti kompromi menyangkut tanah pendudukan. Sedangkan “kiri” tidak mengacu pada sosialisme, tapi pada sikap dovish yang mengutamakan negosiasi,dan juga kesediaan melepas Gaza dan Tepi Barat kepada rakyat Palestina demi tercapainya solusi damai antara Israel dan Palestina (land for peace).
Gejala ini secara nyata tercermin dalam pemilu Israel baru-baru ini (2009). Fakta bahwa tokoh seperti Netanyahu atau Avigdair Lierbeman semakin meroket popularitasnya menujukkan betapa sikap hawkish sedang laku keras di Israel
Netanyahu yang kini memimipin partai Likud jelas-jelas menyatakan hendak mempertahankan wilayah pendudukan. Sedangkan Lieberman, pemimpin partai baru Yisra’eli Beininu, merupakan politisi ultranasionalis yang dikenal rasis terhadap warga negara Israel keturunan Arab, yang jumlahnya hampir mencapai 20 persen dari total populasi negeri itu. Ia bahkan menuduh mereka sebagai musuh dalam selimut, yang lebih loyal terhadap Palestina dibanding kepada negerinya sendiri.
Pada tingkat tertentu, penguatan kubu hawkish di Israel ini dipicu oleh supremasi Hamas di Gaza yang bertekad menghancurkan Israel. Begitu juga sebaliknya. Naiknya pamor Hamas tak bisa dilepaskan dari menguatnya kelompok kanan di Israel, yang terdiri dari para pemilih dan simpatisan partai Likud, kaum Yahudi ultra-Orthodox, dan mayoritas imigran dari Rusia pasca tumbangnya Soviet.
Kita sering mendengar alasan membela diri sebagai faktor yang mendorong Israel menyerang Gaza. Tapi tunggu dulu. Hamas pun bisa mengklaim hal yang sama, misalnya dengan berdalih serangan roketnya ke Israel juga demi membela diri dari blokade ekonomi dan sosial yang diberlakukan Israel atas Gaza. Dengan kata lain, yag sesungguhnya terjadi adalah ini: kedua belah pihak mengalami militansinya masing-masing.
Bagaimana kita memahami fenomena itu? Sejauh menyangkut Israel, akar masalahnya sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Hamas lahir. Tepatnya setelah Israel berhasil meluluhlantakkan, dalam waktu singkat, kekuatan bersenjata gabungan Mesir, Jordan, dan Syiria pada peperangan tahun 1967, yang lazim dikenal sebagai “Perang Enam Hari.”
Sebelum tahun 1967, sikap Israel terhadap Arab secara umum mengacu pada konsep “tembok besi” yang dirumuskan oleh Vladimir Jabotinsky. Nama ini memang sering diasosiasikan dengan Zionisme revisionis yang menjadi sumber inspirasi partai sayap kanan Likud. Tapi esainya berjudul “Tembok Besi: Kita dan Arab” yang terbit pada 1920an menunjukkan bahwa pandangan Zionis kelahiran Odessa ini sejatinya mengandung muatan yang tak bisa begitu saja dinisbatkan ke ideologi hawkish Partai Likud.
Apa itu strategi “tembok besi’? Menurut Jabotinsky, Israel harus mengakui adanya pertautan alamiah antara bangsa Palestina dengan tanah kelahiran mereka, “seperti halnya pertautan bangsa Aztecs pada Mexico atau suku Sioux pada tanah rerumputan mereka.” Karena itu bisa dimaklumi kalau mereka menentang berdirinya negara Yahudi di Palestina, yang mereka anggap sebagai kolonisasi. Kata Jabotinsky, “seandainya kita Arab, kita akan menentangnya juga.”
Dari situ ia kemudian menegaskan bahwa bangsa Arab tidak akan dengan sukarela mengakui kehadiran negara Yahudi di Palestina. Karena itu menurutnya, untuk merealisasikan proyek Zionisme, kaum Yahudi mesti membangun kekuatan militer yang betul-betul kokoh laksana tembok besi, sehingga setiap usaha bangsa Arab untuk menghancurkannya akan berakhir dengan sia-sia
Jabotinsky meyakini kegagalan terus menerus yang diderita bangsa Arab akan membuat mereka lambat laun menjadi kompromistis, dan akhirnya menerima kehadiran Israel. Dengan kata lain, buat Jabotinsky, kekuatan militer bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana pemaksa agar pihak Arab bersedia berunding dengan Israel.
Tapi setelah berhasil menduduki Gaza, Tepi Barat, dan wilayah Arab lain menyusul kemenangannya pada perang 1967, Israel seperti terpukau dengan kedigdayaannya sendiri. Strategi tembok besi ala Jabotinsky lantas ditinggalkan. Israel tidak lagi menempatkan kompromi sebagai tujuan akhir dari kebijakan politik mereka.
Sikap anti kompromi ini menjadi semakin mengeras dengan adanya dukungan dari kelompok yang senantiasa bersinergi. Pertama kelompok fundamentalis Yahudi yang tergabung dalam Gush Emunim, yang meyakini Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem sebagai anugerah Tuhan kepada bangsa Yahudi di Israel, dan karena itu “haram” hukumnyadikembalikan ke bangsa Arab. Kedua adalah partai Likud yang sejak awal getol memperjuangkan gagasan tentang “Israel Raya” yang mencakup keseluruhan wilayah Israel dan Palestina.
Sikap anti kompromi yang ditampilkan Israel inilah yang terbukti selalu menjadi batu sandungan bagi setiap pembicaraan damai dengan pihak Arab. Sampai sekarang.
Pada 2002, misalnya, Liga Arab dengan juru bicara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi menawarkan hubungan penuh dengan Israel asalkan Israel mau kembali ke wilayahnya sebelum perang 1967. Tapi dengan ketus Israel menolaknya. Bahkan Hamas juga pernah menawarkan gencatan senjata 30-40 tahun dengan catatan Israel menarik diri dari pendudukan. Israel lagi-lagi menampiknya.
Artinya apa? Kalau kita kembali kepada Amos Oz, Israel menempuh jalan Chekov ketimbang Shakespeare bukan karena semata-mata pengaruh faktor luar ( Hamas), melainkan terutama justru akibat dari dinamika internalnya sendiri.
Ironisnya, Israel juga didera oleh rasa terkepung yang akut sehingga senantiasa melihat sekelilingnya sebagai ancaman. Setidaknya itu terlihat pada serangan mereka ke Gaza. Rasa terkepung ini muncul karena Israel selalu melihat dirinya sebagai korban, dan pada saat yang sama punya kekuatan militer yang tak tertandingi di Timur Tengah, plus dukungan yang hampir total dari Amerika. Nah, kombinasi antara kekuatan yang tak tepermanai yang dimiliki Israel plus persepsi diri sebagai korban pada akhirnya menyebabkan Israel selalu merasa terancam. Ungkapan “Jika yang anda punya hanya palu, dunia sekitar akan tampak seperti paku” rasanya tepat sekali melukiskan tabiat Israel.
Apa yang terjadi pada Israel saat ini sungguh terasa absurd, bahkan kalau hal itu dilihat dari perspektif zionisme. Ketika Theodor Herzl, mencetuskan ide negara Yahudi pada akhir abad 19, bapak Zionisme itu mendambakan agar dengan mempunyai Negara sendiri, bangsa Yahudi, yang bisa hidup normal seperti bangsa-bangsa lain.” Menurut Herzl, dua ribu tahun lamanya bangsa Yahudi hidup abnormal, yakni terpencar dalam diaspora tanpa negara. Oleh karena itu mereka rentan menjadi target serangan antisemitisme di Eropa . Berdirinya Negara Israel oleh Herzl dimaksudkan agar bangsa Yahudi bisa keluar dari abnormalitas tersebut. Harapannya adalah agar ancaman antisemitisme lenyap.
Tapi setelah lebih enam dasawarsa berdiri, Israel mengidap sindrom mentalitas terkepung. dan antisemitisme justru semakin meluas. Apakah kehidupan semacam ini yang dibayangkan oleh Herzl sebagai "normal" sebagaimana bangsa-bangsa lain?
Entahlah. Yang pasti, mentalitas terkepung semacam inilah yang menyebabkan harapan Amos Oz terhadap negerinya tidak tercapai. Karena terbukti Israel condong kepada model Shakespeare dan menjauhi model Chekov.
(* kolom TEMPO, 16 Februari 2009, dengan sedikit revisi)
Kamis, 22 November 2012
sekian lama terpuruk
Entah mulai kapan ada semangat baru
untuk berkarya, dari yang sebelumnya Cuma tidur-tiduran, main game, dan
lain-lain. Kesadaran aka nada ketika kita mengalami masa dimana kita
membutuhkanya. Seperti contoh, kita melakukan Shalat lima waktu karena
terpaksa, tetapi ketika Kita benar-benar membutuhkan Shalat itu sendiri, tidak
ada paksaan untuk menjalankanya, dan bahkan terasa sangat ringan dan masalah
terangkat ketika menjalankanya.
Memang ketika ada teman yang
mengingatkan waktu Shalat membuat kita malas mengerjakanya, bukan karena apa,
tetapi hal itu karena paksaan, oleh sebab itu kesadaran akan Shalat manusia ,
apa yang di butuhkan oleh manusia, tak semuanya sama.
Langganan:
Postingan (Atom)


