Happy Smile

Happy Smile
Eksperimen lensa cannon 50 mm

Sabtu, 09 Februari 2013

10 tempat di indonesia yang membuat serasa keliling Dunia

Nusantara yang tersebar di indonesia itu sangat Uniq, dan tersebar sangat banyak suku dan sekaligus dengan iklim yang bervariatif dari yang paling panas sampai yang dingin sekalipun. dengan budaya yang beragam juga memiliki berbagai hal-hal ghaib yang berbeda

- ingin merasakan suasana Kanada, silahkan kunjungi segara anakan rinjani


- Ingin Merasakan salju di Indonesia, silahkan ke Cartenz Pyramid


- ingin serasa gurun pasir sahara silahkan ke gurun pasir Bromo


- ingin merasakan padang rumput atau stepa silahkan pergi ke wilayah Nusa tenggara


- ingin merasakan Hutan rimba tropis seperti di amazon atau kongo silahkan mampir ke pedalaman
kalimantan



- ingin merasakan udara segar bagaikan di swiss silahkan ke dieng


- ingin merasakan suasana mini redwood kaya di amrik silahkan kunjungi Pinus di aceh


- ingin menikmati savana mini afrika silahkan ke Baluran


- serasa di mini niagara silahkan ke poso Sulawesi


- dan serasa di Venisia versi Indonesia


Jumat, 23 November 2012

ISRAEL ANTARA SHAKASPEARE DAN CHEKOV*

Oleh A Sahal,,,,,,,,......

Konflik antara Israel dan Palestina, kata sastrawan Israel Amos Oz, adalah tragedi setragis-tragisnya. Karena yang menyulut konflik tersebut adalah benturan dua klaim yang sama-sama tidak mau mengalah. Lantas bagaimana mungkin tragedi semacam ini bisa disudahi? Amos Oz menyebutkan dua pilihan cara penyelesaian: model Shakespeare atau model Chekov.

Pada model Shakespeare, konflik berakhir ketika semua pihak yang terlibat saling menghabisi satu sama lain, sehingga pada akhir cerita semua mati terbunuh. Lihatlah misalnya babak akhir lakon “Hamlet.” Duel antara Hamlet dan Laertes tidak hanya berujung pada kematian keduanya, melainkan juga menyeret ibunda Hamlet, Gertrude, dan raja Claudius ke liang lahat. 

Sebaliknya, pada model Chekov, konflik diselesaikan melalui resolusi yang sama sekali jauh dari memuaskan siapapun, mengecewakan, dan bahkan mungkin menyisakan luka. Namun, masing-masing pihak tetap hidup.

Oz sendiri menaruh harapan agar negaranya memilih model Chekov dan bukan Shakespeare dalam menangani perseturuannya dengan Palestina. Artinya, jalan perundingan, bukan jalan militer. Sebab menurutnya, sejelek-jeleknya kompromi tetap lebih baik daripada perang habis-habisan a la duel Hamlet. Harapan yang masuk akal, mengingat Amos Oz adalah pendiri gerakan Shalom Achshav (Damai Sekarang) yang gencar menentang kebijakan pemerintahnya menyangkut West Bank dan Gaza.

Namun harapan novelis Israel itu tampaknya hanya menjadi suara ayup yang melemah, ketika politik Israel semakin diwarnai oleh menguatnya kelompok sayap kanan di Israel, yang dibarengi dengan merosotnya kekuatan gerakan kiri.

Harap diingat, dikotomi "kanan-kiri" dalam nomenklatur politik Israel lebih banyak terkait dengan isu keamanan nasional ketimbang ekonomi. “Kanan” di sini bukan berarti liberalisme, melainkan sikap hawkish yang mengandalkan jalan militer dan anti kompromi menyangkut tanah pendudukan. Sedangkan “kiri” tidak mengacu pada sosialisme, tapi pada sikap dovish yang mengutamakan negosiasi,dan juga kesediaan melepas Gaza dan Tepi Barat kepada rakyat Palestina demi tercapainya solusi damai antara Israel dan Palestina (land for peace).

Gejala ini secara nyata tercermin dalam pemilu Israel baru-baru ini (2009). Fakta bahwa tokoh seperti Netanyahu atau Avigdair Lierbeman semakin meroket popularitasnya menujukkan betapa sikap hawkish sedang laku keras di Israel

Netanyahu yang kini memimipin partai Likud jelas-jelas menyatakan hendak mempertahankan wilayah pendudukan. Sedangkan Lieberman, pemimpin partai baru Yisra’eli Beininu, merupakan politisi ultranasionalis yang dikenal rasis terhadap warga negara Israel keturunan Arab, yang jumlahnya hampir mencapai 20 persen dari total populasi negeri itu. Ia bahkan menuduh mereka sebagai musuh dalam selimut, yang lebih loyal terhadap Palestina dibanding kepada negerinya sendiri. 

Pada tingkat tertentu, penguatan kubu hawkish di Israel ini dipicu oleh supremasi Hamas di Gaza yang bertekad menghancurkan Israel. Begitu juga sebaliknya. Naiknya pamor Hamas tak bisa dilepaskan dari menguatnya kelompok kanan di Israel, yang terdiri dari para pemilih dan simpatisan partai Likud, kaum Yahudi ultra-Orthodox, dan mayoritas imigran dari Rusia pasca tumbangnya Soviet. 

Kita sering mendengar alasan membela diri sebagai faktor yang mendorong Israel menyerang Gaza. Tapi tunggu dulu. Hamas pun bisa mengklaim hal yang sama, misalnya dengan berdalih serangan roketnya ke Israel juga demi membela diri dari blokade ekonomi dan sosial yang diberlakukan Israel atas Gaza. Dengan kata lain, yag sesungguhnya terjadi adalah ini: kedua belah pihak mengalami militansinya masing-masing. 

Bagaimana kita memahami fenomena itu? Sejauh menyangkut Israel, akar masalahnya sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Hamas lahir. Tepatnya setelah Israel berhasil meluluhlantakkan, dalam waktu singkat, kekuatan bersenjata gabungan Mesir, Jordan, dan Syiria pada peperangan tahun 1967, yang lazim dikenal sebagai “Perang Enam Hari.” 

Sebelum tahun 1967, sikap Israel terhadap Arab secara umum mengacu pada konsep “tembok besi” yang dirumuskan oleh Vladimir Jabotinsky. Nama ini memang sering diasosiasikan dengan Zionisme revisionis yang menjadi sumber inspirasi partai sayap kanan Likud. Tapi esainya berjudul “Tembok Besi: Kita dan Arab” yang terbit pada 1920an menunjukkan bahwa pandangan Zionis kelahiran Odessa ini sejatinya mengandung muatan yang tak bisa begitu saja dinisbatkan ke ideologi hawkish Partai Likud.

Apa itu strategi “tembok besi’? Menurut Jabotinsky, Israel harus mengakui adanya pertautan alamiah antara bangsa Palestina dengan tanah kelahiran mereka, “seperti halnya pertautan bangsa Aztecs pada Mexico atau suku Sioux pada tanah rerumputan mereka.” Karena itu bisa dimaklumi kalau mereka menentang berdirinya negara Yahudi di Palestina, yang mereka anggap sebagai kolonisasi. Kata Jabotinsky, “seandainya kita Arab, kita akan menentangnya juga.”

Dari situ ia kemudian menegaskan bahwa bangsa Arab tidak akan dengan sukarela mengakui kehadiran negara Yahudi di Palestina. Karena itu menurutnya, untuk merealisasikan proyek Zionisme, kaum Yahudi mesti membangun kekuatan militer yang betul-betul kokoh laksana tembok besi, sehingga setiap usaha bangsa Arab untuk menghancurkannya akan berakhir dengan sia-sia

Jabotinsky meyakini kegagalan terus menerus yang diderita bangsa Arab akan membuat mereka lambat laun menjadi kompromistis, dan akhirnya menerima kehadiran Israel. Dengan kata lain, buat Jabotinsky, kekuatan militer bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana pemaksa agar pihak Arab bersedia berunding dengan Israel.

Tapi setelah berhasil menduduki Gaza, Tepi Barat, dan wilayah Arab lain menyusul kemenangannya pada perang 1967, Israel seperti terpukau dengan kedigdayaannya sendiri. Strategi tembok besi ala Jabotinsky lantas ditinggalkan. Israel tidak lagi menempatkan kompromi sebagai tujuan akhir dari kebijakan politik mereka.

Sikap anti kompromi ini menjadi semakin mengeras dengan adanya dukungan dari kelompok yang senantiasa bersinergi. Pertama kelompok fundamentalis Yahudi yang tergabung dalam Gush Emunim, yang meyakini Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem sebagai anugerah Tuhan kepada bangsa Yahudi di Israel, dan karena itu “haram” hukumnyadikembalikan ke bangsa Arab. Kedua adalah partai Likud yang sejak awal getol memperjuangkan gagasan tentang “Israel Raya” yang mencakup keseluruhan wilayah Israel dan Palestina.

Sikap anti kompromi yang ditampilkan Israel inilah yang terbukti selalu menjadi batu sandungan bagi setiap pembicaraan damai dengan pihak Arab. Sampai sekarang. 

Pada 2002, misalnya, Liga Arab dengan juru bicara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi menawarkan hubungan penuh dengan Israel asalkan Israel mau kembali ke wilayahnya sebelum perang 1967. Tapi dengan ketus Israel menolaknya. Bahkan Hamas juga pernah menawarkan gencatan senjata 30-40 tahun dengan catatan Israel menarik diri dari pendudukan. Israel lagi-lagi menampiknya.

Artinya apa? Kalau kita kembali kepada Amos Oz, Israel menempuh jalan Chekov ketimbang Shakespeare bukan karena semata-mata pengaruh faktor luar ( Hamas), melainkan terutama justru akibat dari dinamika internalnya sendiri.

Ironisnya, Israel juga didera oleh rasa terkepung yang akut sehingga senantiasa melihat sekelilingnya sebagai ancaman. Setidaknya itu terlihat pada serangan mereka ke Gaza. Rasa terkepung ini muncul karena Israel selalu melihat dirinya sebagai korban, dan pada saat yang sama punya kekuatan militer yang tak tertandingi di Timur Tengah, plus dukungan yang hampir total dari Amerika. Nah, kombinasi antara kekuatan yang tak tepermanai yang dimiliki Israel plus persepsi diri sebagai korban pada akhirnya menyebabkan Israel selalu merasa terancam. Ungkapan “Jika yang anda punya hanya palu, dunia sekitar akan tampak seperti paku” rasanya tepat sekali melukiskan tabiat Israel. 

Apa yang terjadi pada Israel saat ini sungguh terasa absurd, bahkan kalau hal itu dilihat dari perspektif zionisme. Ketika Theodor Herzl, mencetuskan ide negara Yahudi pada akhir abad 19, bapak Zionisme itu mendambakan agar dengan mempunyai Negara sendiri, bangsa Yahudi, yang bisa hidup normal seperti bangsa-bangsa lain.” Menurut Herzl, dua ribu tahun lamanya bangsa Yahudi hidup abnormal, yakni terpencar dalam diaspora tanpa negara. Oleh karena itu mereka rentan menjadi target serangan antisemitisme di Eropa . Berdirinya Negara Israel oleh Herzl dimaksudkan agar bangsa Yahudi bisa keluar dari abnormalitas tersebut. Harapannya adalah agar ancaman antisemitisme lenyap.

Tapi setelah lebih enam dasawarsa berdiri, Israel mengidap sindrom mentalitas terkepung. dan antisemitisme justru semakin meluas. Apakah kehidupan semacam ini yang dibayangkan oleh Herzl sebagai "normal" sebagaimana bangsa-bangsa lain? 

Entahlah. Yang pasti, mentalitas terkepung semacam inilah yang menyebabkan harapan Amos Oz terhadap negerinya tidak tercapai. Karena terbukti Israel condong kepada model Shakespeare dan menjauhi model Chekov.

(* kolom TEMPO, 16 Februari 2009, dengan sedikit revisi)

Kamis, 22 November 2012

sekian lama terpuruk


Entah mulai kapan ada semangat baru untuk berkarya, dari yang sebelumnya Cuma tidur-tiduran, main game, dan lain-lain. Kesadaran aka nada ketika kita mengalami masa dimana kita membutuhkanya. Seperti contoh, kita melakukan Shalat lima waktu karena terpaksa, tetapi ketika Kita benar-benar membutuhkan Shalat itu sendiri, tidak ada paksaan untuk menjalankanya, dan bahkan terasa sangat ringan dan masalah terangkat ketika menjalankanya.
Memang ketika ada teman yang mengingatkan waktu Shalat membuat kita malas mengerjakanya, bukan karena apa, tetapi hal itu karena paksaan, oleh sebab itu kesadaran akan Shalat manusia , apa yang di butuhkan oleh manusia, tak semuanya sama. 

Rabu, 11 Juli 2012

Benteng Selatan nusantara



            Kita bisa melihat apa yang di miliki oleh Negara kita NKRI, tantang angkatan lautnya. Kapal-kapal patroli kecil,
Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 132 kapal, KRI, dibagi menjadi tiga kelompok kekuatan:
  1. Kekuatan Pemukul (Striking Force) terdiri dari 40 KRI yang memiliki persenjataan strategis:
    1. 2 kapal selam kelas Cakra.
    2. 6 Fregat kelas Ahmad Yani
    3. 3 Fregat kelas Fatahillah
    4. 1 Fregat kelas Ki Hajar Dewantara
    5. 4 Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach)
    6. 15 Korvet anti kapal selam kelas Parchim
    7. 2 Kapal cepat rudal (KCR) kelas Clurit
    8. 4 kapal cepat rudal (KCR) kelas Mandau.
    9. 2 kapal cepat torpedo (KCT) kelas Ajak.
    10. 1 Kapal cepat buatan Fasharkan TNI AL kelas Clurit
    11. 2 kapal (hibah dari Brunei) kelas Salawaku
    12. 2 buru ranjau (BR) kelas Pulau Rengat.
  2. Kekuatan Patroli (Patrolling Force) berjumlah 50 KRI.
    1. 10 kapal FPB buatan PT. PAL kelas Pandrong
    2. 25 kapal Fiber buatan Fasharkan TNI AL kelas Boa
    3. 15 kapal PC kelas Sibarau
  3. Kekuatan Pendukung (Supporting Force) berjumlah 48 KRI, terdiri dari:
    1. 7 angkut tank (AT) kelas Teluk Langsa
    2. 4 angkut tank (LST) kelas Teluk Semangka
    3. 2 angkut tank (LSTM) kelas Teluk Banten
    4. 14 angkut tank (AT) Kelas Frosch
    5. 2 angkut tank kelas NSU dan KPG
    6. 4 Landing Platform Dock (LPD) Kelas Makassar
    7. 1 markas (MA) kelas Multatuli
    8. 6 penyapu ranjau (PR) kelas kondor
    9. 5 bantuan cair minyak (BCM): ARN, SRG, SGG, SMB,BPP
    10. 1 Bantuan Rumah Sakit (BRS) Kelas dr. Suharso
    11. 2 bantu tunda (BTD)Kelas Soputan
    12. 4 bantu umum (BU): KMT, MTW, NTU, WGO
    13. 1 bantu angkut personel (BAP) kelas Tanjung Kambani
    14. 2 bantu angkut personel (BAP) kelas Tanjung Nusanive
    15. 3 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Pulau Rondo
    16. 1 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Dewa Kembar
    17. 2 kapal latih.

Dilihat dari jumlah personelnya bagaimanakah jika sebuah Negara dengan 5 Kapal induk yang benar-benar Siap tempur berada di samudra hindia dengan Pembagian 1 di Nusa tenggara, 1 di bali dan 3 Di pulau jawa dan bersiap untuk menyerang Indonesia.?
            Ketika Jawa, Bali dan Nusa tenggara hilang pertahananya Negara penyerang akan dengan mudah menguasai Kalimantan dan kepulauan wilayah Maluku dan Juga irian dengan bgitu wilayah Indonesia hanya tersisa Sulawesi dan Sumatra. Seperti kita ketahui begitu lemahnya Pertahanan kita. Yang kita lakukan hanya rebut-ribut terus di dalam kursi pemerinatahan. Pembangunan hanya berpusat di Jakarta, sementara daerah pulau terdepan semakin ketinggalan.
            Seandainya itu terjadi, mobilisasi pasukan di wilayah itu juga kocar-kacir. Apa yang bisa di andalakan kapal-kapal kecil Indonesia ketika harus menghadapi ombak ganas dari samudra Hindia?, sedangkan tehnologi dari Negara penyerang dengan kapal induknya yang besar-besar dan pesawat tempurnnya? Sementara kapal induk kita baru rencana di buat.
            Oleh sebab itu mohon kesadaranya untuk para generasi muda berjuang untuk pertahanan NKRI

Coli Eps 3. Tarian lantai Jari

Jumat, 06 Juli 2012

Munafik bagi yang mengatakan rokok itu haram


Mari kita hitung berapa banyak rokok menyumbang negara indonesia
1 bungkus = 12batang, 
1 slof= 10 bungkus
1 ball = 20 slof
1 karton = 4 ball
jadi 1 karton = 9600 batang itu jika 1 pack 12 batang jika 1 pack 16 batang maka 1 karton = 12800

jika di kalikan cukai per batang  12800 X 345(merk jarum, gudang garam,jisamsu,samporna dsb)= 4416000 itu pr karton (kardus)
nah sekarang bisa di kalikan sendiri total semuanya. 
dalam setahun terakhir contoh djarum memebrikan sumbangan 12 T untuk pita cukai, lha terus kalau produsen rokok lainya? di total?
nah kemudian hasil cukai itu masuk kemana?
alokasi dana itu sebagian di alihkan ke infrastruktur jalanan, umum, gaji pegawai dan sebagainya.
itu baru Cukai lho, lha yang keuntungan 
1. buat konser
2. liga sepakbola
3. Beasiswa
4. penghijauan
5. dan kegiatan amal lainya (dariapada perusahaan2 lain dan orang2 kaya lainya justru juragan rokok yang memberikan banyak sumbangan)
percuma jadi penentang rokok kalau dia sendiri gak ada kontribusi buat negara.

jadi saya himbau
- Bagi para perokok
Terimakasih telah berjasa besar untuk negara dengan mengorbankan sebagian nyawamu
Merokoklah di tempat yang tetap asal jangan mengganggu yang bukan perokok

-Bagi yang bukan perokok 
Jangan mudah mengharamkan rokok siapa tahu anda juga menikmati fasilitas dari rokok


Rabu, 04 Juli 2012

Part 2 pencarian potensi kepulauan selatan nusantara


Sehabis dari malang kami melanjutkan perjalanan menuju banyuwangi
26 Juni 2012.15.00
 kami berangkat dengan kreta api menuju stasiun banyuwangi baru. Kreta sepi dengan semua penumpangnya. Hanya rame di beberapa stasiun keberangkatan. Pemandangan indah sekaligus mengerikan mengikuti kami. Cukup lama hingga Jam 11 malam kami sampai di Stasiun banyuwangi baru. Sampai di sana kami mencari warung sebentar untuk mencari pengganjal perut. Cukup lama sebelum sampai di warung kami sempat menyaksikan kecelakaan maut di jalan raya situbondo sebelum pelabuhan(di siarkan ketika kami berada di Mataram Lombok).
27 juni 2012 00.30
Kami menyebrang di perairan ketapang Gilimanuk, perjalanan cukup membuat deg degkan. Karena ombak cukup besar hingga membuat kapal bergerak kencang terutama angin dari wilayah selatan. Jam 01.30 sampai di gilimanuk. Di sana kami mendapatkan pemeriksaan KTP. Sehabis itu cari ATM dulu. Untuk persiapan menuju padang Bay. Di jalan kami istirahat di Masjid sebentar. Cukup lelah juga sambil menunggu bis Pagi.
Musibah pertama bagi saya. Karena saya meletakan duit yang sama di saku 235.000 dan anehnya yang hilang hanya 200000nya sedangkan 35.000 nya masih. Padahal duitnya bercampur di saku. Hal itu membuat kami lebih berhati-hati lagi. Kami menaiki Bis sedang roda belakang doble hingga menuju Padang Bay di pagi hari. Cukup melelahkan karena beber4apa hari kami harus Istirahat di Mobil terus-menerus.
09.00 kami melanjutkan penyebrangan Padang Bay hingga Pelabuhan Lempar lombok. Di perjalanan kami bertemu dengan kawan-kawan dari Jember 4 orang, Pak Tarom, Ajik, Mirza dan Nasrul. Sampai di lempar sekitar pukul 15.00 dan segera kami Bertolak ke Unram. Di sana kami di sambut oleh teman-teman dari Wanapratala dan Kapa Unram. Mereka ramah menyambut kami. Terima kasih buat Wp dan Kapa Unram. Dan kami beristirahat hingga pagi. Dan siap untuk menuju Rinjani.